showpageArea a {text-decoration:underline;} showpageNum a {text-decoration:none;border: 1px solid #cccccc;margin:0 3px;padding:3px;} showpageNum a:hover {border: 1px solid #cccccc;background-color:#cccccc;} showpagePoint {color:#333;text-decoration:none;border: 1px solid #cccccc;background: #cccccc;margin:0 3px;padding:3px;} showpageOf {text-decoration:none;padding:3px;margin: 0 3px 0 0;} showpage a {text-decoration:none;border: 1px solid #cccccc;padding:3px;} showpage a:hover {text-decoration:none;} showpageNum a:link,.showpage a:link {text-decoration:none;color:#333333;}

Rabu, 30 Januari 2013

KISAH HIDUP J.K.ROWLING

Setelah menciptakan Harry Potter, ia menjadi wanita terkaya di Inggris. Padahal, sebelumnya ia hidup terlunta-lunta dengan masa depan tak pasti.
Seri terbaru Harry Potter, jilid ke-6
, Harry Potter and the Half-Blood Prince, serta film yang diangkat dari novel keempat, Harry Potter And The Goblets of Fire, makin menebalkan kocek Rowling, yang kini konon mencapai 280 juta poundsterling (sekitar 445,5 juta dolar AS). Kekayaan yang berlimpah itu menjadikan Rowling sebagai wanita terkaya di Inggris, sekaligus salah satu orang terkaya di dunia.
Namun, sebelum sukses itu diraih, siapa sangka ia pernah menjalani hidup yang sangat bersahaja. Bahkan, pada suatu titik, ia tak bisa lagi disebut hidup sederhana. Ia termasuk warga miskin, sehingga pantas mendapat santunan uang dari pemerintah. Sampai kini, Rowling masih terus bersyukur karena Harry Potter muncul pada saat yang tepat, tatkala sebagai orang tua tunggal ia terpaksa harus menghidupi sendiri bayinya. “Ketiadaan uang membuat harga diri seseorang terbenam sampai dasar,” demikian pengakuannya suatu hari.
MENCIPTAKAN DONGENG UNTUK ADIK
Stasiun King’s Cross di London, Inggris, merupakan sebuah tempat yang sangat penting bagi hidup Joanne Kathleen Rowling. Pertama, tempat itu mempertemukan kedua orang tuanya, Peter dan Anne. Kedua, di tempat itu pulalah ide untuk menulis cerita Harry Potter tiba-tiba muncul di kepalanya.
Kedua orang tuanya adalah warga London asli. Mereka bertemu di Stasiun King’s Cross saat sama-sama akan menuju Arbroath, Skotlandia, saat itu keduanya baru berusia 18 tahun.
“Ayahku hendak bergabung dengan Royal Navy (Angkatan Laut Inggris), begitu pula ibuku. Ibuku bercerita, di kereta itu ia merasa kedinginan. Kemudian, ayahku menawarkan jaket yang dikenakannya untuk dipakai bersama-sama. Mereka saling jatuh cinta dan menikah setahun kemudian,” kata J.K. Rowling, yang akrab disapa Jo.
Tak lama setelah menikah, pasangan pengantin baru itu meninggalkan angkatan laut dan pindah ke Yate, di pinggir kota Bristol, Inggris bagian barat. Sang ayah lalu bekerja sebagai teknisi mesin pesawat terbang di perusahaan automotif terkemuka, Rolls-Royce. Sedangkan ibunya, yang berdarah campuran Prancis dan Skotlandia, memilih menjadi ibu rumah tangga, dan berniat mengurus bayi yang sedang dikandungnya.
Jo lahir pada 31 Juli 1965 (tanggal dan bulan lahir yang sama dengan tokoh Harry Potter) di sebuah rumah sakit umum di Chipping Sodbury. Sebenarnya, nama asli pemberian orang tuanya hanyalah Joanne. Namun, pihak penerbit memintanya menambah satu inisial lagi di antara nama depan dan nama keluarganya. Jo pun memilih Kathleen, nama salah satu neneknya yang paling ia sayangi.
Gadis kecil yang pendiam ini memiliki seorang adik perempuan, bernama Di. Usia mereka hanya terpaut dua tahun. “Aku ingat, ketika aku sedang bermain di dapur, ayahku sibuk mondar-mandir, dari dapur ke kamar ibuku, kembali lagi ke dapur, lalu lari ke kamar ibuku lagi. Rupanya, saat itu ayahku sedang membantu kelahiran Di,” kisah Jo.
Ada perasaan yang aneh setiap kali Jo memerhatikan adiknya. Ia merasa, secara fisik Di sangat berbeda darinya. Adiknya memiliki warna rambut yang gelap dan mata cokelat pekat, persis seperti milik ibunya. “Di jauh lebih cantik daripada aku,” Jo mengakui. Secara tak sengaja, seolah ada label yang ditempelkan pada mereka berdua. Di adalah anak cantik, sedangkan Jo anak yang cerdas. Mereka sama-sama tidak menyukai label tersebut. Jo sangat ingin dilihat sebagai anak manis, sementara Di –sekarang menjadi pengacara- sangat kesal jika orang hanya melihat kecantikannya saja, tanpa memandang kepandaiannya.
Seperti kakak-beradik pada umumnya, apalagi yang beda usianya hanya sedikit, Jo dan Di sering sekali bertengkar. Suatu kali, akibat pertengkaran itu, pelipis Di berdarah karena dilempar batu baterai oleh Jo. Jo sendiri kaget melihat darah mengucur dari kepala adiknya, karena sebenarnya ia tak berniat menyakiti adik yang sangat disayanginya. “Sampai sekarang, bekas luka itu masih tampak di atas alis Di. Aku tidak pernah melihat Ibu semarah itu kepadaku!” kata Jo, mengenang masa kecilnya.
Ketika Jo berusia 4 tahun, keluarga sederhana yang bahagia itu lalu meninggalkan Yate dan pindah ke Winterbourne, masih di pinggir kota Bristol. Yang membuat Jo sangat senang adalah rumah barunya itu memiliki tangga. Ia dan adiknya sering kali bermain seluncur di pegangan tangga.
Memang, jika tidak sedang bertengkar, Jo dan Di merupakan sahabat baik. Jo sering bercerita tentang berbagai hal pada adiknya. Di selalu mendengarkan cerita kakaknya dengan serius. Sering kali, cerita itu bisa berubah menjadi suatu permainan. Misalnya, Jo menceritakan sebuah cerita anak-anak, mereka berdua pun kemudian memerankan tokoh-tokohnya. “Saat menjadi stage manager untuk ‘pementasan drama’ itu, aku bisa benar-benar bossy. Tapi, tampaknya Di sama sekali tidak keberatan. Soalnya, dia selalu kuberi peran utama,” kata Jo, tertawa.
Banyak sekali anak-anak sebaya Jo yang tinggal di dekat rumahnya. Di antara mereka terdapat kakak-beradik bernama Potter. Jo menyukai nama Potter itu dan tidak terlalu senang dengan nama keluarganya sendiri. Soalnya, nama Rowling sering menjadi bahan ejekan teman-temannya. Kadang-kadang, mereka memanggilnya dengan nama ‘Rowling Stone’ atau panggilan-panggilan pelesetan lain. Potter kecil kenalan mereka ini sangat nakal. Suatu hari ia melemparkan batu pada Di. Bertindak sebagai kakak yang baik, Jo lalu membalas perlakuan itu dan melempar pedang-pedangan plastik ke kepalanya.
HOBI MENULIS SEJAK KECIL
Jo yang cerdas sangat senang bersekolah di Winterbourne. Suasananya sangat menyenangkan. Ia menyukai pelajaran membuat keramik, menggambar, dan juga menulis cerita. Membaca buku anak-anak dan membacakannya bagi teman-temannya pada saat makan siang adalah salah satu kegiatan favoritnya. Buku-buku favoritnya adalah The Wind in the Willows (karangan E. Nesbit), Narnia (karangan CS Lewis), I Capture the Castle (karangan Dodie Smith), dan The Little White Horse oleh Elizabeth Goudge.
Saat anak-anak lain masih belajar menulis, Jo sudah bisa menyelesaikan buku pertamanya pada usia 6 tahun. Buku itu berjudul Rabbit. Ceritanya memang sederhana, tapi imajinasi Jo yang kuat tergambar dengan baik. Buku itu bercerita tentang seekor kelinci yang sedang sakit campak, lalu dikunjungi oleh teman-temannya. “Sejak itu, aku selalu bercita-cita menjadi penulis. Sejak itu pula, aku sudah tidak bisa ber-henti mengutak-atik kata.”
Naskah cerita Rabbit itu ia serahkan kepada ibunya. Sekejap ibunya terpana dan memandang Jo. Lalu, katanya, “Buku ini bagus sekali.” Jo tiba-tiba mengungkapkan ide yang brilian, “Oke, kalau begitu, kita terbitkan saja.”
Mungkin, ide tersebut dianggap aneh jika terlontar dari anak berusia 6 tahun. Jo sendiri tidak tahu mengapa ia bisa tiba-tiba memiliki ide segila itu. “Tapi, aku benar-benar ingin menerbitkan buku itu. Tak ada seorang pun dalam keluargaku yang menjadi penulis. Di kadang-kadang menulis surat yang lucu. Tapi, panjangnya paling-paling hanya satu paragraf. Ia tidak pernah suka menulis,” Jo menceritakan obsesinya.
Sebenarnya, Jo senang sekali tinggal di Winterbourne, namun orang tuanya selalu bermimpi hidup di pedesaan. Akhirnya, pada ulang tahun Jo yang ke-9, untuk terakhir kalinya mereka berpindah rumah. Kali ini ke Tutshill, desa kecil di daerah Wales. Untunglah Jo sangat menyukai desa ini pada pandangan pertama. Bersama Di, ia sering bermain di ladang, atau berlari-lari di sisi Sungai Wye.
Kepergian neneknya, Kathleen, tak lama sesudah itu, membuat suasana hati Jo berubah. Ia jadi kurang bersemangat masuk ke sekolah baru. “Sejujurnya, aku tidak begitu suka pada sekolah baru ini. Pelajarannya tidak menarik, tidak seperti sekolah sebelumnya. Di sini seharian kami hanya duduk menghadap papan tulis. Sekolah ini kecil dan kuno. Gurunya sangat tegas dan sedikit menakutkan,” kata Jo.
Karena merasa tidak nyaman, Jo jadi jarang mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Suatu kali ia menatap mejanya. Ada satu lubang untuk meletakkan satu set pena. Lalu, ada satu lubang kecil lagi yang menyerupai kompas penunjuk arah. Rupanya, lubang kedua itu dibuat oleh murid yang sebelumnya duduk di tempat itu. “Perhatianku teralih. Dari papan tulis ke lubang tersebut. Akhirnya, bukannya menyimak pelajaran, aku malah asyik memperbesar lubang itu. Alhasil, ketika meninggalkan kelas, lubang itu sudah sebesar jari,” Jo menceritakan masa-masa kebandelannya.
Jo melanjutkan ke sekolah menengahnya di Wyedean Comprehensive. Mata pelajaran favoritnya adalah bahasa Inggris. Jo yang berbadan kecil, tidak terlalu suka pelajaran olahraga. Ia bahkan pernah mengalami patah lengan ketika bermain voli.
Kegemarannya menceritakan sesuatu kepada teman-temannya terus berlanjut. Anehnya, teman-temannya selalu mau mendengarkan Jo dengan seksama. Kadang, mereka juga memainkan peran dalam cerita itu, seperti yang dilakukan oleh Jo dan Di ketika masih kecil. Karena kepandaiannya memimpin teman-temannya, Jo pernah dinobatkan menjadi ketua kelas pada tahun terakhir sekolahnya.
Satu hal yang tak pernah dilupakan Jo di sekolah itu adalah perkenalannya dengan Sean Harris (Jo bahkan mempersembahkan buku Harry Potter jilid kedua, Chamber of Secret, kepada Sean). Ia teman pertama yang mengajarinya menyetir mobil. “Bagiku, naik mobil berwarna turquoise dan putih itu berarti kebebasan. Soalnya, aku tidak lagi harus meminta bantuan ayah untuk mengantar ke sekolah. Diantar ke sekolah oleh orang tua ketika sudah remaja merupakan suatu ‘reputasi buruk’, jika kau tinggal di pedesaan,” kata Jo, menuturkan.
Kenangan-kenangan termanis tentang masa remajanya memang selalu berkaitan dengan Sean. Pemuda itu adalah orang pertama yang bisa diajaknya berdiskusi tentang keinginan Jo menjadi penulis. Dia juga orang pertama yang yakin bahwa Jo akan sukses. Keyakinan Sean itu sangat berarti bagi Jo.
Saat berusia belasan, Jo sudah bisa menghasilkan banyak tulisan. Tapi, ia tidak pernah berani menunjukkannya kepada orang lain. Yang ia perlihatkan hanya cerita-cerita pendek lucu, yang mengisahkan pergaulan Jo dan teman-temannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar